Dilema tahun 2026: masih betah ngontrak atau saatnya beli rumah sendiri di garut? baca ini dulu!

Memasuki tahun 2026, harga kebutuhan pokok perlahan merangkak naik. Bagi pasangan muda atau milenial di Garut yang masih tinggal di hunian sewa (kontrakan/kos), pertanyaan besar ini pasti sering muncul di kepala:
“Sampai kapan kita mau ngontrak terus?”
Ngontrak memang terasa nyaman di awal. Tidak perlu mikirin pajak bumi bangunan (PBB), kalau ada kerusakan tinggal panggil pemilik, dan kalau bosan tinggal pindah. Tapi, pernahkah Anda menghitung berapa kerugian finansial jangka panjang dari kenyamanan semu tersebut?
Artikel ini akan membuka mata Anda tentang mengapa keputusan untuk beli rumah di Garut—meskipun terasa berat di awal—adalah langkah finansial paling cerdas yang bisa Anda ambil tahun ini.
Bahaya Zona Nyaman: Uang Sewa yang “Menguap”
Mari kita berhitung sederhana. Anggaplah saat ini Anda membayar sewa kontrakan di area Garut kota atau sekitarnya sebesar Rp 800.000 per bulan.
- 1 Tahun: Rp 800.000 x 12 = Rp 9.600.000
- 5 Tahun: Rp 9.600.000 x 5 = Rp 48.000.000
Dalam lima tahun, hampir 50 juta Rupiah uang hasil kerja keras Anda “menguap” begitu saja. Apa yang Anda dapatkan di akhir tahun kelima? Nol. Anda tidak memiliki hak kepemilikan sedikitpun atas bangunan yang Anda tempati.
Itu belum menghitung kenaikan harga sewa yang biasanya terjadi setiap 1-2 tahun sekali. Uang sewa adalah pengeluaran murni, bukan investasi.
Baca Juga Alasan Rumah Subsidi Cocok untuk Pekerja Bergaji UMR
Nyicil Rumah = “Memaksa” Diri Menabung Aset
Banyak orang takut mengambil KPR (Kredit Pemilikan Rumah) karena ngeri membayangkan utang jangka panjang. Padahal, cara pandangnya harus diubah.
Saat Anda memutuskan beli rumah di Garut dengan skema KPR, cicilan bulanan yang Anda bayarkan bukanlah pengeluaran sia-sia. Itu adalah tabungan aset.
Setiap bulan Anda membayar cicilan, porsi kepemilikan Anda terhadap rumah tersebut bertambah. Dan yang paling penting: Harga properti cenderung naik setiap tahun.
Rumah yang Anda beli di Leuwigoong hari ini seharga Rp 160 jutaan, lima tahun lagi nilainya bisa jadi sudah menyentuh Rp 200 juta lebih seiring berkembangnya infrastruktur (seperti dekatnya akses Stasiun Leuwigoong). Kenaikan nilai aset ini disebut Capital Gain.
Jadi, pilih mana: 5 tahun keluar uang 48 juta dan tidak dapat apa-apa, atau 5 tahun nyicil dan memiliki aset yang harganya terus naik?
Bukit Nivas Lantana: Solusi Punya Rumah Tanpa “Menyiksa” Dompet
Alasan klasik menunda beli rumah biasanya adalah: “Takut cicilannya mahal, nanti nggak bisa makan enak.”
Kekhawatiran itu wajar jika Anda langsung mengincar rumah komersil di tengah kota. Namun, Dexaland menghadirkan solusi melalui Bukit Nivas Lantana (BNL) di Leuwigoong, Garut.
BNL menawarkan hunian subsidi berkualitas dengan angsuran yang sangat terjangkau, mulai dari Rp 1 Jutaan per bulan (flat sampai lunas untuk skema tertentu). Angka ini tidak jauh berbeda dengan biaya ngontrak, bukan?
Dengan harga yang terjangkau, Anda sudah mendapatkan rumah Tipe 30/60 atau Tipe 36 yang memiliki:
- 2 Kamar Tidur.
- Ruang tamu lega.
- Dan yang paling penting: Sisa tanah di belakang yang luas untuk pengembangan dapur atau taman.
Kesimpulan: Jangan Tunggu Nanti
Tahun 2026 baru saja dimulai. Ini adalah momen terbaik untuk mengevaluasi ulang tujuan finansial Anda. Menunda beli rumah di Garut sama artinya dengan membiarkan harga properti semakin tinggi dan semakin sulit terkejar di tahun depan.
Ubah uang kontrakan Anda menjadi cicilan aset di Bukit Nivas Lantana.
Siap untuk simulasi hitungan KPR-nya?
Jangan ragu untuk berdiskusi dengan tim kami. Kami akan bantu hitungkan skema terbaik yang sesuai dengan gaji UMR Garut sekalipun.
Hubungi Ahmadi via WhatsApp di 087866919930 atau klik ikon WhatsApp di pojok kanan bawah website ini.
Lebih baik rumah sendiri, meskipun sederhana, daripada istana tapi milik orang lain.
